KURIKULUM 2013 : Mengawal Zaman Yang Senantiasa Berubah

KURIKULUM 2013 : Mengawal Zaman Yang Senantiasa Berubah
oleh : Ato Rahman
Widyaiswara LPMP Gorontalo

Ingat-mengingat zaman kita sekolah dulu, perilaku belajar kita termasuk netizen sebelumnya menggunakan buku manual sekarang dan saat ini  kita banyak menggunakan buku yang ditemani smartphone yang selalu ada dalam genggaman. Merunut sejarah manusia belajar itu ada, jauh sebelumnya, sebut saja ada zaman batu, zaman tulang, zaman kayu, zaman daun kemudian zaman kertas atau buku.

Setiap zaman ada generasinya, ketika zaman berubah pasti dihantarkan oleh generasi transisi zaman. Jadi setiap zaman berubah diciptakan oleh generasinya. Perubahan zaman didasarkan pada kurikulum juga lho, bukankah kurikulum pada zaman dulu diartikan sebagai lapangan pertandingan atau perlombaan. Yang namanya lapangan pertandingan/perlombaan sudah pasti ada strategi pembelajaran untuk pemenangan pertandingan/perlombaan. Nampaknya sangat sederhana, jika dibandingkan Kurikulum yang anda kenal yang sangat kompleks, bukan? Lalu siapa yang mencipta kurikulum itu untuk mengarahkan zaman yang selalu berubah? Jawabnya, sudah pasti GURU, predikat guru itu ada bukan saja pada zaman sekarang ini, keberadaan guru sudah ada sejak 500 tahun sebelum masehi.

Hingga kini bukti sejarahnya masih selalu terlihat dan terpakai, yakni bentuk uniform atau pakaian dinas, anda dapat melihatnya saat anda sebagai wisudawan dan lengkapnya uniform itu terlihat dikenakan oleh Guru Besar /Senator Perguruan Tinggi.

Pintasnya, lalu bagaimana tanggungjawab kita sebagai generasi transisi yang menghantarkan ke zaman generasi smartphone. Jawabnya adalah mengawal Kurikulum 2013 agar terimplementasi secara baik di sekolah, termasuk dilingkungan keluarga, masyarakat bahkan pada lembaga pemerintahan. Mengingat smartphone berfungsi sebagai penghela pengetahuan sebagai dampak maslahatnya sementara itu bisa jadi berdampak mudharatnya yang kecepatannya secepat kecepatan cahaya yang besarnya tiga ratus juta meter dalam satu satuan detik. Untuk menjaga maslahat dan mudharatnya smartphone yang dipakai sebagai penghela (≈penarik) pengetahuan untuk kepentingan pembelajaran scientis muda/peserta didik di sekolah.

Maka sebagai ajakan saya mari kita berpikir dan  bertindak bersama mendukung Kurikulum 2013  melalui: 1) Kemitraan sekolah, keluargadan Masyarakat, 2) Gerakan Literasi, 3) Gerakan Penumbuhan Budi Pekerti. Tanpa ketiganya dengan bekal dukungan kita semua Kurikulum 2013 tidak bisa bekerja. Keberhasilan Kurikulum 2013 belum bisa terukur saat ini atau beberapa tahun saja, kita harus menunggu keberhasilan tersebut sebagai hadiah Indonesia Emas pada tahun 2045 nanti atau yang bertepatan dengan Seratus Tahun Indonesia Merdeka.

Ingat, untuk melaluinya kita berhadapan dengan Era Bonus Demografi pada tahun 2020-an, artinya berlimpahnya jumlah usia produktif penduduk dunia, yang berdampak pada kehidupan berbangsa dan bernegara. Dan untuk menjaga dampak bonus demografi tersebut tergantung pada kita menata pendidikan saat ini, jika pendidikan Indonesia berhasil maka “Jayalah Indonesia” dengan jumlah penduduknya berlimpah yang memiliki  Kompetensi Sikap, Pengetahuan dan Keterampilan yang dimiliki oleh peserta didik dengan predikat baik dan sangat baik pada setiap kompetensi.

Pada peserta didik yang saat ini blajar kita menitipkan pesan kepada mereka  bahwa merka adalah generasi yang mencipta generasi berikutnya yang mengubah zaman ke zaman ultra-modern. Pada akhir tulisan ini saya sangat berterimakasih pada teman-teman yang menginspirasi untuk bersama mengawal Kurikulum 2013.(md)

Catatan :
Artikel ini sudah pernah dimuat pada Harian Gorontalo Post edisi 18 Januari 2017

Save

Save