FULL DAY SCHOOL : Dalam Konteks Penjaminan Mutu Pendidikan

FULL DAY SCHOOL : Dalam Konteks Penjaminan Mutu Pendidikan
Oleh : Ato Rahman
Widyaiswara LPMP Gorontalo

Program Full Day School tidaklah semudah membalik tapak tangan, banyak yang harus dilewati dan disiapkan, mulai dari kesiapan sekolah fasilitas sarana prasarana, guru, kesiapan siswa, orangtua siswa dengan berbagai alasan sampai dengan pro-kontranya, yang tanpa mengeksplorasi tujuan dan manfaatnya bagi masa depan negeri ini. Sebagian masyarakat, orangtua, siswa, sekolah memberi ketaksetujuannya terhadap program ini. Sekedar mengingatkan bahwa, generasi saat ini yang sementara duduk di kursi belajarnya akan menghadapi gelombang bonus demografi atau jumlah penduduk dunia dengan usia produktif yang berlimpah di tahun 2020-an. Mencintai negeri ini harus ditandai dengan penjaminan mutu pendidikan untuk generasi hebat kompetensinya, yakni hebat karakternya, hebat kognisinya dan hebat keterampilannya, agar dapat lepas dari gelombang bonus demografi tersebut. Kejayaan negeri ini bergantung pada penjaminan mutu pendidikan saat ini untuk menumbuh kembangkan kompetensi generasi hebat.

Generasi hebat kompetensi diperlukan gerakan percepatan penjaminan mutu pendidikan, Pemerintah sudah melakukannya sejak 2013 dengan Kurikulum 2013 (K-13) baik secara langsung maupun melalui LPMP Gorontalo sebagai perpanjangan tangan pemerintah pusat. Rencana Program FDS yang memuat kompetensi yang diharapkan untuk dimiliki siswa sebagai output sekolah yang menjadi kebutuhan masyarakat sebagaimana harapan K-13. Generasi hebat kompetensi adalah generasi problem solver bukan generasi yang menambah problemnya masyarakat. Untuk itu percepatan penjaminan mutu pendidikan yang dilakukan oleh sekolah sangat membutuhkan dukungan semangat pelakunya dan penggunanya yakni Guru, siswa dan masyarakat. Dukungan tersebut menjadi penting mengingat betapa mahalnya waktu, pikiran, tenaga dan biaya yang dikeluarkan untuk menyiapkan program-program perubahan seperti FDS dan Kurikulum 2013 (K-13). Penyiapan program perubahan melalui proses perjalanan panjang yang dimulai dari penyiapan naskah akademiknya, peraturannya, bahan ajarnya hingga melatih seluruh guru setanah air untuk mampu mengimplementasikan pada siswa di tingkat sekolah.
Jika diperhatikan setiap perubahan pada pendidikan selalu akan melalui fenomena pro-kontra, seperti saat awal direncanakan K-13 dan kini dirasakan pula sejak direncanakannya FDS. Ditengah rencana FDS sedang dalam pembahasan oleh pemerintah, sementara itu pula sebagian masyarakat masih dalam kegalauan untuk menerima pemberlakuannya, justru dibeberapa daerah terutama di Pulau Jawa, Sumatera, Sulawesi menyambutnya sebagai program daerah di bidang pendidikan.

Demikian pula di Gorontalo, jauh sebelum rencana program FDS, telah memiliki MAN Cendekia, MAN Model, Pesantren Hubulo, Pensantren Al-Huda, Boarding School SMAN 3 Gorontalo, dll. Sekolah-sekolah tersebut telah mengembangkan pembelajaran yang menggunakan waktu sepanjang hari. Hasil atau outpuntya dari sekolah-sekolah tersebut telah mendapat pengakuan regional, nasional bahkan internasional sebagai sekolah yang berkategori baik yang dibuktikan dengan mutu lulusannya dapat menyamai daerah lain belajar di perguruan tinggi ternama.
Secara psikofisik ternyata Pro-Kontra dibutuhkan untuk keberlangsungan program berjalan dengan lancar. Pro-Kontra atau gesekan itu tidak lain sebagai bentuk kontribusi perhatian, dukungan, pengawasan masyarakat dan pemerintah terhadap jalannya Program FDS. Untuk mengimplementasikan FDS tentu sekolah dan pemerintah harus memperhatikan apa yang dirasakan oleh anak dan orangtua dari sisi fasilitas sekolah, kesiapan guru, hingga kesiapan orang tua terhadap kebutuhan anak selama di sekolah. Dari sisi ini yang perlu diperhatikan adalah mengembangkan fungsi Kemitraan Sekolah, Keluarga dan Masyarakat sebagai salah satu konten K-13. Dengan Program Kemitraan ini menjadi salah satu titik temu antara FDS dengan K-13, untuk berjalan bersama dengan stabil. Program Kemitraan tersebut akan melahirkan Huyula, Parents Class atau Gorong Royong.

FDS sangat erat kaitannya dengan K-13, dimana FDS memberi pertambahan waktu belajar yang lebih luas untuk pendidikan karakter. Sehingga dari sisi pertambahan waktu belajar dalam FDS tersebut dapat digunakan secara bijak baik untuk pendidikan karakter maupun K-13. Dengan demikian sekolah dapat mengatur jadwalnya pelajaran dengan leluasa disesuaikan dengan bobot mata pelajaran dan ditambah dengan pendalaman materi. Dalam Program FDS yang menjadi penekanannya adalah pendidikan Karakter. Pendidikan Karakter adalah salah satu yang menjadi nawacita pemerintahan Jokowi-Kalla. Olehnya itu Menteri Pendidikan Muahdjir Effendy mendukungnya melalui rencana FDS.
Mencermati pengertian karakter dan Pendidikan karakter di atas dalam konteks sekarang ini sangat dibutuhkan untuk mengatasi krisis moral yang sedang melanda di negara kita. Krisis tersebut antara lain berupa meningkatnya pergaulan bebas, maraknya angka kekerasan anak-anak dan remaja, kejahatan terhadap teman, pencurian remaja, kebiasaan menyontek, penyalahgunaan obat-obatan, pornografi, dan perusakan milik orang lain sudah menjadi masalah sosial yang hingga saat ini belum dapat diatasi secara tuntas, oleh karena itu betapa perlunya pendidikan karakter.

Dengan pendidikan karakter diharapkan peserta didik memiliki karakter yang indikatornya yakni, religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat/komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli social, tanggung jawab.

Mencermati pendidikan karakter sebagai muatan FDS di atas sangat berhubungan dengan K-13 yang memuat Kompetensi Inti sikap spriritual dan social, pengetahuan dan keterampilan yang tujuannya adalah mewujudkan sumber daya manusia yang kompetensinya universal. Proses implementasi K-13 itu yang kemudian didukung oleh Program literasi sekolah, Program Penumbuhan Budi Pekerti/karakter, Program Kemitraan sekolah, yang pada akhirnya memberi kesan bahwa materi bawaan FDS dan bawaan K-13 adalah saling berdampingan, saling menguatkan untuk membentuk output pendidikan yang problem solver yang berkarakter bukan hanya menambah masalah pada masyarakat.
Dengan demikian FDS adalah salah satu solusinya untuk mengimplementasikan keseluruhan program pendidikan baik pendidikan karakter dan program yang menjadi bawaan K-13. FDS dan K-13 menjadi dua program besar yang dilaksanakan oleh sekolah dan tidak dapat dipisahkan satu dengan lainnya. Sebagai penguat pemahaman atas eksplorasi kita terhadap FDS dan K-13 dapat diasosiasikan dengan konsep “Cangkir dan Piring Cangkir”, FDS adalah piring cangkirnya dan K-13 adalah cangkirnya.(md)

Catatan :
Artikel ini sudah pernah dimuat pada Harian Gorontalo Post edisi 10 Pebruari 2017

Save

Save

Save

Save

Save