IDE

IDE
Oleh : Eky Aristanto P. Punu
Kepala Seksi Sistem Informasi

Banyak cara untuk menghasilkan sesuatu, walau kadang ,…orang berhenti hanya setelah mengimpikannya..memang perlu ikhtiar untuk melintasi jalan panjang nan berliku itu, dalam hal ini pemikiran atau ide-ide, namun…kesulitan utamanya adalah,…apakah ide-ide atau pemikiran itu dapat direalisasikan? Atau bahkan, setelah dibuat menjadi sebuah karya, malah dituduh meniru (plagiat).

Menulis, menuangkan buah pikiran dalam bentuk puisi,cerita fiksi, novel, roman, syair lagu, jurnal ilmiah, apapun itu membutuhkan penggalian ide-ide. Bisa muncul dimana saja, kapan saja. Adakalanya dicari tak ketemu, malah timbul saat memandang suatu kejadian, membaca berita, mendengarkan sebuah lagu, atau bahkan saat sedang tertimpa satu kemalangan.

Ide-ide itu, sayangnya, bisa saja memiliki kemiripan dengan ide-ide orang lain sehingga dibagian-bagian tertentu kadang terbesit dalam pikiran kita saat sedang membaca suatu tulisan ataupun novel, bahwa sepertinya materi tulisan yang kita baca sudah pernah kita baca sebelumnya di tulisan atau buku karya orang lain . Ini dapat saja terjadi karena sebagai pencari ide, seorang penulis melihat, merasakan, juga dapat mengalami hal yang sama dengan penulis lainnya.

Bulan (ini baru Bulan, belum yang lain-lain) dengan warnanya yang melankolis, sendu, romantis, menghasilkan berbagai syair lagu, puisi dan cerita. Bayangkan saat anda duduk ditepi pantai memandangi bulan, dan angin semilir menyapok kelopak mata, menyentuh pori-pori kulit, ..bau laut, burung-burung yang terbang kembali ke sarangnya, perahu-perahu nelayan yang siap melaut mencari ikan, luar biasa hamparan pemandangan ini,..oleh seseorang, ini hanya satu hal biasa dilewati kapan saja, buat orang lain, ini jadi cerita.

Inilah, mungkin, yang mau disampaikan oleh orang Gorontalo bernama Hans Bague Jassin “Paus” Sastra Indonesia, ketika diminta pendapat saat membela Haji Abdul Malik Karim Amrullah (1908-1981) atau yang lebih akrab disapa ‘Buya Hamka’ seorang sastrawan yang dikemudian hari lebih dikenal sebagai ulama besar di Indonesia dan pernah menjadi Menteri Agama dan ketua MUI di masa Orde Baru yang dituduh sebagai plagiator pada karya Novel nya yang berjudul “Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck”.

Tenggelamnya Kapal v.d Wijck (1938) memiliki banyak sekali kemiripan dengan novel Magdalena yang merupakan saduran penyair Mustafa Luthfi Al-Manfaluthi (1876-1942) dari roman yang ditulis pengarang Prancis Alphonse Karr, Sous les Tilleuls. Hebatnya, kemiripan –kemiripan itu dapat dijelaskan oleh mereka yang menuduh Hamka sebagai plagiator, dengan menggunakan teori “Idea Script” dan “Idea Scecth” yang bahkan di masa itu masih merupakan hal yang baru. Di tahun 60-an, hiruk pikuk dunia kesusastraan Indonesia berpusat pada perdebatan mengenai keabsahan Novel ini sebagai karya Hamka. Argumen dari pihak yang menuduh dan bantahan dari pihak yang mendukung (termasuk Hans Bague Jassin) mewarnai kolom-kolom berita, baik di majalah sastra maupun di media cetak umum lainnya saat itu.

“Idea Script” adalah Gagasan yang disarikan dari perbandingan kalimat demi kalimat yang tersusun berturut dalam bentuk surat. “Idea Scecth” merupakan praktek daripada ilmu ukur, dimana yang divisualkan adalah jumlah tokoh dalam kedua buku dalam perbandingan serta hubungan satu sama lain yang menyebabkan mereka muncul dalam buku tersebut, serta mempergunakan garis-garis penghubung tertentu untuk melambangkan hubungan tersebut.

Hans Bague Jassin, dalam salah satu penjelasannya yang saya ingat (diuraikan oleh Guru mata pelajaran Bahasa Indonesia saya di SMA), memaparkan bahwa dalam menghasilkan sebuah karya tulis, seorang penulis tidak dapat terlepas dari kemiripan dikarenakan hamparan “lahan-lahan” ide yang diserap oleh panca indera dan dikeluarkan kembali menjadi buah tulis itu dapat saja sama. Dicontohkan dengan situasi disuatu tempat ketika seorang penulis puisi memandang bulan, sementara disuatu tempat lainnya ada juga seorang penulis puisi yang sedang memandang bulan, dan ketika mereka menuliskan puisi tentang bulan itu, apakah bisa disebut meniru apabila puisi mereka memiliki kemiripan?
Saya, sudah terlanjur kagum oleh ketokohan H.B Jassin di dunia sastra Indonesia, juga..sangat miris jika membayangkan seorang Hamka sebagai plagiator. Namun, membuka kembali halaman-halaman buku lama, membaca kembali komentar-komentar di kolom harian lama,..membuat kita kadang tersadar,..bahwa ide, sesederhana itu jika disebut, ternyata sangat kompleks jika dibahas, dan pengaruhnya melintasi masa.

Terlepas dari kebenaran dan kesalahan, yang patut disadari adalah kita tidak dapat terlepas dari keterbatasan dan kekerdilan kita sebagai makhluk ciptaan Allah SWT, kesempurnaan adalah Milik-Nya. Paling tidak, kisah cinta Zainudin dan Hayati yang oleh Hamka diceritakan dan dirangkai dengan tragedi berdasarkan kisah nyata tentang kapal Van Der Wijck yang berlayar dari pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, menuju Tanjung Priok, Jakarta, dan tenggelam di Laut Jawa, timur laut Semarang, pada 21 Oktober 1936, filmnya sudah mengisi waktu luang saya ketika berada di kapal feri saat menuju pulau Raja Ampat akhir tahun 2015, meski belum mampu menggugah emosi saya (mungkin karena setting cerita romansa bukan kesukaan saya?) tapi sudah menarik kembali nostalgia masa SMA dan ingatan akan kutipan kata “Under the Sun, there is no new, only new combinations” Dibawah Matahari, tak ada hal yang baru, yang ada hanyalah kombinasi-kombinasi baru.(md)

Save

Save

Save

Save

Save

Save