Mengupas Tuntas Peran Pengawas SD Dalam Implementasi Kurikulum 2013

Berbicara tentang pengawas sekolah tentu tidak akan terlepas dari fungsi pengawas itu sendiri,sampai dimana ruang lingkup pengawas,serta,tugas dan tanggung jawabnya didalam melaksanakan dan mengimplementasikan program dan kegiatan kepengawasan baik secara akademik maupun secara manajerial.di satuan pendidikan. Adapun bidang pengawasan sebagaimana yang dinyatakan dalam Permenegpan dan RB nomor 21 tahun 2010 terdiri atas pengawasan taman kanak-kanak/raudhatul athfal, sekolah dasar/madrasah ibtidaiyah, pengawasan rumpun mata pelajaran/mata pelajaran, pendidikan luar biasa, dan bimbingan konseling dengan beban kerja selama 37.5 jam perminggu.

Dalam melaksanakan tugas dengan beban kerja selama 37.5 jam per minggu sebagaimana yang disebutkan diatas, maka kewajiban pengawas sekolah dalam melaksanakan tugasnya antara lain adalah menyusun program pengawasan, membimbing dan melatih profesional guru; meningkatkan dan mengembangkan kualifikasi akademik dan kompetensi secara berkelanjutan sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni. Hal ini berarti bahwa pengembangan kompetensi oleh pengawas khususnya mengikuti perkembangan teknologi tidak bisa ditawar-tawar lagi karena kedepan berbagai program yang sedang dan akan dilaksanakan sangat berkaitan dengan peran dan fungsi pengawas itu sendiri.

Salah satu program yang berkaitan dengan tugas dan fungsi pengawas adalah Implementasi Kurikulum 2013 yang saat ini sudah memasuki tahun yang ke 4 bagi sekolah sasaran baik yang dilaksanakan oleh pemerintah maupun yang dilaksanakan secara mandiri. Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa program Implementasi Kurikulum 2013 yang merupakan penyempurnaan kurikulum sebelumnya sebenarnya telah berjalan sejak bulan Juli tahun pelajaran 2013/2014 yang dilaksanakan secara terbatas dan bertahap. Khusus di Propinsi Gorontalo jumlah satuan pendidikan yang menjadi sasaran adalah sebanyak 74 satuan pendidikan mulai dari jenjang SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA dan SMK/MAK.

Pada tahun 2013, pengembangan Kurikulum 2013 sudah memasuki tahap pelaksanaan secara bertahap dan terbatas pada Kelas I dan IV sebanyak 2% SD/MI, pada tahun pelajaran 2014/2015 pelaksanaan Kurikulum telah diberlakukan untuk kelas I, II, IV dan V di seluruh sekolah dasar di Indonesia. Pada tahun pelajaran 2015/2016 pelaksanaan kurikulum 2013 diberlakukan untuk kelas I s.d VI pada sekolah sasaran pelaksana kurikulum rintisan pemerintah dan rintisan mandiri.

Pendampingan pelaksanaan Kurikulum adalah proses pemberian bantuan penguatan pelaksanaan Kurikulum yang diberikan kepada pengawas, kepala sekolah, guru, tenaga kependidikan lain, orang tua/komite sekolah dan pemangku kepentingan di sekolah dasar, sekolah menengah pertama, sekolah menengah atas/kejuruan sesuai kurikulum yang berlaku. Pendampingan menjadi alat pemberdayaan dan pengembangan personal yang ampuh dan efektif dalam menolong seseorang mengembangkan karirnya. Dengan pendampingan, akan tercipta kerjasama antara dua orang (pendamping dan sasaran) yang biasanya bekerja di bidang yang sama atau berbagi pengalaman yang mirip. Selain itu, pendampingan dapat menciptakan hubungan kerja yang bermanfaat didasarkan pada sikap saling percaya dan menghormati.

Pelaksanaan pendampingan dilakukan melalui metode kunjungan pengawas ke gugus dan sekolah untuk melakukan pendampingan terhadap Guru Kelas I, II, III, IV, V, VI, guru PJOK dan Agama. Selanjutnya, pengawas mendampingi guru yang sedang mengajar di kelas ketika sedang berlangsung proses pembelajaran. Pendampingan dilakukan secara internal di sekolah Klaster/Induk/Inti dan pendampingan oleh sekolah Klaster/Induk/Inti kepada sekolah Imbas

Adapun mekanisme pelaksanaan pendampingan kurikulum di sekolah dasar adalah sebagai berikut : pertemuan pertama di awal (IN-1 sampai dengan IN-3) dilakukan di gugus yang diikuti seluruh kepala SD Rintisan Pemerintah, Rintisan Mandiri, Kepala SD Inti dan SD Imbas dan Guru Kelas I, II, III, IV, V, dan VI. Kegiatan ini dipimpin oleh pengawas yang sudah mendapat bimbingan teknis kurikulum. Untuk pembekalan bagi Guru Kelas I, II dan III.

Kemudian Pendampingan pada pembelajaran di kelas (ON–1 sampai dengan ON-6) di sekolah yang ada di wilayah gugus masing-masing yang dilakukan oleh Pengawas kepada Guru Kelas SD Imbas yang telah mendapatkan pembekalan pendampingan di gugus. Kegiatan ON-1 dilaksanakan pada kelas III dan warga sekolah lainnya.

ON merupakan kegiatan pendampingan yang dilaksanakan oleh pengawas terhadap Guru Sasaran di SD-nya masing-masing secara bergantian dan dilaksanakan selama 1½ hari. Pada ½ hari pertama, pendampingan dilaksanakan setelah PBM selesai dilakukan. Pada 1 hari kedua, pendamping mendampingi guru melakukan pembelajaran di kelas, mulai pendahuluan sampai dengan selesai PBM. Setelah itu, dilakukan evaluasi terhadap pembelajaran di kelas, dan pembuatan rencana tindak lanjut.

Secara teoritik keberhasilan suatu kurikulum secara utuh memerlukan proses panjang, mulai dari kajian dan kristalisasi berbagai gagasan dan konsep ideal tentang pendidikan, pengembangan desain kurikulum, penyiapan dan penugasan pendidik dan tenaga kependidikan, penyediaan sarana dan prasarana, penyiapan tata kelola pelaksanaan kurikulum, pembelajaran, dan penilaian. (md)

Save

Save

Save