Ada Apa Dengan Kompetensi Inti Pengetahuan ?

Memandang kehidupan dan semua permasalahannya yang bermunculan dapat berawal dari kompetensi sikap, pengetahuan dan keterampilan yang harus diperbaiki melalui pembenahan pendidikan, bukankah output pendidikan yang memiliki kompetensi tersebut menjadi kebutuhan social? Untuk itu tulisan ini mengajak pembaca untuk memiikirkannya secara kreatif dari sudut pandang positif kurikulum 2013. Yang dimaksudkan adalah untuk secara kreatif adalah berpikir dan bertindak melaksanakan kurikulum 2013 sesuai rambu-rambunya. Sebab ketika kita berpikir kreatif secara positif, pastilah akan membuahkan harapan bahwa semua permasalahan akan terasakan lebih mudah dihadapi.

Bahkan itu akan membuat semangat hidup semakin kuat dan kita dipenuhi rasa syukur dan bahagia karena telah berhasil memasuki ruang problem kurikulum 2013 dan berusaha untuk berhasil melaluinya demi kehebatan masa depan generasi yang memiliki kompetensi untuk bersikap, berpikir untuk berketerampilan dan berpengetahuan.Tulisan ini akan mengulas muatan Kompetensi Inti yang sebelumnya dengan istilah standar kompetensi, dengan focus Kompetensi Inti pengetahuan sebagai salah satu dari empat Kompetensi Inti pada Kurikulum 2013.

Kompetensi Inti dijelaskan dalam kurikulum 2013 adalah berfungsi sebagai penerjemah Standar Kompetensi lulusan (SKL). Kompetensi Inti secara turut-turut dengan sebutan: Kompetensi Inti Sikap Spritual (KI-1); Kompetensi Inti Sikap Sosial (KI-2); Kompetensi Inti Pengetahuan (KI-3); Kompetensi Inti Keterampilan (KI-4). Keempat kompetensi inti ini menerjemahkan Standar Kompetensi Lulusan (SKL) yang terdiri dari Kompetensi Sikap; Kompetensi Pengetahuan; dan Kompetensi Keterampilan. SKL ini menjadi no urut pertama dari delapan Standar Nasional Pendidikan (SNP), dijadikan nomor pertama dalam SNP disebabkan SKL menjadi kebutuhan masyarakat dalam era globalisasi. SKL sebagai kebutuhan masyarakat karena melihat kompleksitasnya masalah yang akan dihadapi secara internal, nasional dan internasional, terlebih untuk Indonesia Emas tahun 2045.

Kompetensi Inti selain berfungsi menerjemahkan Standar Kompetensi Lulusan (SKL) berfungsi sebagai pengganti istilah Standar Kompetensi (SK) pada Ktsp, berfungsi pula sebagai pengikat Kompetensi Dasar (KD) yang muatannya mengarah pada Dimensi proses kognitif peserta didik yang terpetakan pada Dimensi Pengetahuan atau yang berkaitan dengan bidang/materi ajar yang akan menjadi menu utama Peserta didik dalam membentuk Peserta didik yang memiliki Kompetensi Sikap Spiritual, Kompetensi Sikap Sosial, Kompetensi Pengetahuan dan Kompetensi Keterampilan. Jadi untuk tercapainya SKL oleh peserta didik dapat melalui penilaian Kompetensi Inti. Untuk penilaian otentik atas tercapainya SKL harus melalui Standar Proses pembelajaran, sehingga antara Kebutuhan masyarakat yang SKLnya baik harus sesuai dengan Menunya KI-KD dan Standar Prosesnya, jangan sampai menunya bubur makannya pakai garpu.

Untuk men-share lebih jauh, maka dianggap penting bagi pengampu pembelajaran di kelas adalah memahami Kompetensi Inti, yang dengan tema, “ada apa dengan Kompetensi Inti Pengetahuan ? dengan berharap menjadi bermanfaat.

Persepsi
KI3 fisika X : Memahami, menerapkan, menganalisis pengetahuan faktual, konseptual, prosedural berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait penyebab fenomena dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan prosedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah (Dokumen Kurikulum 2013).

Jika dianalisis melalui pemenggalan kalimat KI3 Pengetahuan Fisika Kelas X maka akan menemukan beberapa unsur  yang terkandung didalammya, antara lain :

  1. Penggalan 1, Memahami, menerapkan, menganalisis adalah 3 dari 6 Proses Kognisi /berpikir adalah Kompetensi Inti Pengetahuan (KI3)
  2. Penggalan 2, … pengetahuan faktual, konseptual, prosedural  … adalah 3 jenis pengetahuan pertama dari 4 jenis pengetahuan dalam Dimensi Pengetahuan (P)
  3. Penggalan 3, …. berdasarkan rasa ingin tahunya … adalah Kompetensi Sikap (KI2) tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait penyebab fenomena dan kejadian,… adalah Kompetensi Inti Spiritual (KI1)
  4. Penggalan 4, … serta menerapkan pengetahuan prosedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah.. adalah Kompetensi  Inti Keterampilan (KI4)

Kompetensi Inti Pengetahuan (KI3) melalui analisis pemenggalan kalimat utuh di atas dapat dianalsis ulang (meta analisis) hingga dapat dikontekstualkan merujuk ke  pendapat para ahli atau  referensy yang terkait dengan ide kurikulum 2013. Sehingga bisa dipersesikan hal-hal sebagai berikut :

  1. Pada Kalimat penggalan 1 dan Penggalan 2, di atas, Untuk mencapai Kompetensi Inti pengetahuan (KI3) melalui proses kognisi yang  merujuk pada Taksonomi Bloom bahwa, Khirarhis berpikir menuruti : i) C1 mengetahui (knowledge), ii) C2 memahami (Understand) ; iii) Menerapkan (Application) ; iv) C4 menaganalisis (Analysis); v) C5 mensintesa (Synthesis) dan vi) C6 mengevaluasi (Evaluate), khirakhi berpikir ini berdimensi satu. Disebut berdimensi satu dikarenakan pada C1 mengetahui (knowledge) telah mengandung dimensi pengetahuan atau jenis pengetahuan untuk diterapkannya Proses kognisi pada level C1. Disini seolah jenis pengetahuan hanya terdapat pada level C1 mengetahui (knowledge), tidak pada proses kognisi yang lainnya. Sebagai keharusan, bahwa ke-6 Proses kognisi secara khirarkhis terpetakan pada jenis dimensi penegetahuan atau jenis pengetahuan yang terdiri atas: a) fakta, b) konsep, c) Prosedure, d) Metakognisi.
    Oleh Anderson-Krathwool, Taksonomi Bloom 1955 merevisi pada  tahun 2001 menjadi  i)  i) C1 mengetahui (knowledge) diganti dengan mengenal / mengingat (recalling); ii) C5 mensintesa (Synthesis) diganti dengan Mencipta atau (Creat) dan menempatkannya pada posisi C6 menggantikan posisi C6 mengevaluasi (Evaluate) pada taksonomi Bloom sehingga C6 mengevaluasi menjadi C5 pada taksonomi revisi Anderson-Krathwool. Sehingga Hasil revisi menjadi :  i) C1 mengenal/mengingat (recalling);  ii) C2 memahami (Understand) ; iii) Menerapkan (Application) ; iv) C4 menganalisis (Analysis); v) C5 mengevaluasi (Evaluate) dan;  vi) C6  mencipta (Creat).
    Perubahan C1 mengetahui oleh Bloom yang telah mengandung jenis pengetahuan direvisi oleh Anderson menjadi C1 Mengenal sebagai bagian dari proses berpikir dan menjadikan jenis pengetahuan yang berdiri sendiri yang disebut dimensi pengetahuan. Sehingga akan terdapat hasil revisi taksonomi Bloom oleh Anderson-Krathwool menjadi dua dimensi, yakni dimensi Proses Kognisi dan dimensi Pengetahuan. Kedua dimensi ini tidak dapat saling lepas atau terpisahkan. Dengan demikian taksonomi Bloom hasil revisi Anderson-Krathwooll  dari model satu dimension menjadi dua dimensi yakni Dimensi Proses Cognition (X)dan Dimensi Knowledge (Y). Uraian ini dapat diperjelas dengan diagram berikut :
  2. Pada kalimat penggalan 3, di atas, …. berdasarkan rasa ingin tahunya … adalah Kompetensi Sikap (KI2) tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait penyebab fenomena dan kejadian,… adalah Kompetensi Inti Spiritual (KI1). Jika rasa ingin tahu yang baik yang tumbuh dan dimiliki oleh Peserta Didik maka dalam proses pembelajaran dapat dilakukan dengan pendekatan Constructivism atau Pemebelajaran aktif yang mengincludkan Proses Scientific yang step-stepnya: i) Mengamati, ii) Menanya, iii) mengumpulkan informasi (untuk menjawab pertanyaan), iii) Mencoba, iv) menyimpulkan dan v) mengkomunikasikan.
  1. Jika pembelajaran berdasarkan proses scientific berjalan dengan baik dan kontinyu maka akan menumbuhkan sikap sebagai nurturent efek dari pengalaman belajar untuk mengkonstruksi pengetahuan sendiri dan tentunya dibawa bimbingan fasilitasi guru pembelajar. Jika ditelusuri lebih jauh bahwa proses scientific tersebut membutuhkan keterampilan (Skill) yang didasarkan oleh pengetahuan dasar untuk mengkonstruksi pengetahuan baru, sehingga dalam teori bahwa proses scientific adalah identik dengan Step Proses Keterampilan, hal ini akan membentuk Kompetensi Inti Keterampilan (KI4) peserta didi.Jadi dengan demikian Proses scientific atau pembelajaran aktif akan membentuk Kompetensi keterampilan dan kompetensi berpikir untuk pengembangan konstruksi pengetahuan serta kompetensi sikap.Proses pembelajaran scientific (aktif) adalah rohnya Kurikulum 2013, model pembelajaran ini adalah model yang sangat sesuai dengan zamannya peserta didik dewasa ini, zamanya teknologi informasi. Peserta didik dewasa ini sangat sulit untuk dibelajarkan dengan pendekatan pembelajaran seperti tahun-tahun sebelumnya. Dahulu peserta didik masih bisa mengulangi pembelajaran di rumah untuk mengahafal, atau menyelesaikan tugas PR, akan tetapi saat ini peserta didik kita seolah tidak punya waktu lagi untuk belajar. Hal ini disebabkan oleh banyaknya kesibukan selain belajar, misalnya kesibukan nonton TV saja bisa berjam-jam karena dalam media TV begitu banyak pilihan chanelnya yang bisa mereka ikuti. Belum lagi media smartphone yang begitu canggihnya. Kondisi peserta didik saat ini sangat sulit untuk dikembalikan ke disiplin belajar sebagaimana dahulu. Sebagai solusinya untuk peserta didik adalah dengan memaksimalkan media yang dimiliki peserta didik menjadi media belajar atau sebagai penghela pengetahuan sebagaimana dalam teori Kurikulum 2013. Sehingga media TV, Smartphone tidak saja menjadi media hiburan saja akan tetapi menjadi media belajar.

    Akan tetapi dalam penggunaan Smartphone oleh peserta didik di sekolah, ada semacam kekhawatiran sekolah, mengingat peserta didik akan menggunakannnya pada hal-hal yang pornoisme sehingga sekolah melarang peserta didik untuk membawa media smartphone, sementara disisi yang lain guru dalam memfasilitasi pembelajaran sangat membutuhkan penghela pengetahuan tersebut. Dengan pelarangan membawa smartphone dan disisi lain sekolah atau guru membutuhkannya dalam pembelajaran,                       akhirnya guru member tugas untuk mendownload materi ajar yang dibutuhkan diluar sekolah. Disini sekolah seolah melepaskan tanggung jawabnya terhadap peserta didik, mengingat apakah peserta diluar sana tidak terkontrol lagi oleh sekolah atau guru. Mengenai hal ini mungkin sebagai solusinya adalah,                 a) seluruh peserta didik yang memiliki smartphone harus didata, b) seluruh smartphone agar dikumpul oleh pihak keamanan selama pemeblajaran, c) pada saat pembelajaran memerlukan smartphone maka siswa dapat dibolehkan menggunakannnya.

    Mempersiapkan pembelajaran pembelajaran scientific pada mata pelajaran fisika yang disesuaikan Kompetensi Inti Pengetahuan (KI3) di atas, perlu memahami Prinsi taksonomi Dimensi Proses Kognisi dan Dimensi Pengetahuan untuk menurunkannya menjadi Kompetensi dasar pengetahuan (KD3 dari KI3).

    Contoh “

    KI3: Memahami, mene­rapkan, menganali­sis pengetahuan faktual, konseptual, prosedural berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait penyebab fenomena dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan prosedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah.

    KD3.2: Menerapkan prinsip-prinsip pengukuran besaran fisis, ketepatan, ketelitian, dan angka penting, serta notasi ilmiah”.

    Jika menganalisis KD3.2. a) terdapat kata “menerapkan” sebagai kata lain dari proses kognisi C3 application, yang dipetakan pada dimensi pengetahuan yakni Konsep berupa i) prinsip-prinsip pengukuran besaran fisis, ii) ketepatan, iii) ketelitian, iv) angka penting, v)notasi ilmiah, b)kata “menerapkan”dalam proses kognisi C3 ini, dapat diturunkan menjadi lebih konkrit sehingga dapat dibelajarkan, diukur, dinilai untuk menentukan hasil pembelajaran peserta didik, c) untuk keperluan penilaian hasil belajar dapat dilakukan melalui penyusunan blue print atau kisi-kisi instrument soal, d)berdasarkan blue print atau kisi-kisi soal dapat disusun Instrumen soal.

    Kompetensi dasar Pengetahuan (KD3) harus dipahami oleh setiap individu Guru untuk mengimplementasikan dalam penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang sudah mengandung instrument penilaian yang didasarkan pada keterampilan menggunakan taksonomi Proses kognisi dan dimensi pengetahuan.

    Kompetensi dasar (KD3.2 Fisika) ini masih mengandung beberapa Pengetahuan Konsep (yang dimaksudkan adalah: prinsip-prinsip pengukuran besaran fisis, ketepatan, ketelitian, dan angka penting, serta notasi ilmiah). Oleh karena itu dapat diurai menjadi Sub Kompetensi dasar (Sub KD 3.2), menjadi:

    1. Menerapkan prinsip-prinsip pengukuran besaran fisi
    2. Menerapkan ketepatan, ketelitian.
    • Menerapkan angka penting, serta notasi ilmiah.

     

    Perlu diingat Proses kognitif “C3 menerapkan/ Application” belum dapat diukur. Untuk dapat diukur kemampuan “C3 menerapkan/application” , haruslah dicarikan kata yang dapat diukur yang diambil dari kelompok Kata kerja operasional (KKO) dari “C3 menerapkan/application”. Selain itu perlu dipahami bahwa pada kurikulum 2013, bahwa kata yang digunakan pada Kompetensi dasar (KD) bukanlah batas maksimal proses kognitif yang harus dikuasai oleh peserta didik. Peserta didik harus menguasai dari level Low order thinking (LOT), Midle order thingking (MOT) hingga High order thingking. Perhatikan contoh berikut ini, misalnya,

    Sub IKD 3.2 : Menerapkan prinsip-prinsip pengukuran besaran fisis.

    Diturunkan menjadi,

    1. Low Order Thingking (LOT)
    • Indikator C1 Mengenal/recalling
    1. Menyebutkan prinsip-prinsip pengukuran besaran fisi
    2. Menjelaskan prinsip-prinsip pengukuran besaran fisi
    3. Mendaftarkan prinsip-prinsip pengukuran besaran fisis .
    4. Menuliskan prinsip-prinsip pengukuran besaran fisis .

    Midle Order Thingking (MOT)

    1. Indikator C2 Memahami/ Understand
    2. Mengkategorikan prinsip-prinsip pengukuran besaran fisis .
    3. Mencirikan prinsip-prinsip pengukuran besaran fisis .
    4. Mendiskusikan prinsip-prinsip pengukuran besaran fisis .
    5. Mencontohkan prinsip-prinsip pengukuran besaran fisis .
    6. Indikator C3 Menerapkan /Application
    7. Mengurutkan prinsip-prinsip pengukuran besaran fisis .
    8. Mengemukakan prinsip-prinsip pengukuran besaran fisis .
    9. Mengadaptasi prinsip-prinsip pengukuran besaran fisis .
    10. Memproduksi prinsip-prinsip pengukuran besaran fisis .

    High Order Thingking (HOT :

    • Indikator C4 Menaganalisis/ Analysis
    1. Menyeleksi prinsip-prinsip pengukuran besaran fisis .
    2. Mengkorelasikan prinsip-prinsip pengukuran besaran fisis .
    3. Menguji prinsip-prinsip pengukuran besaran fisis .
    4. Menemukan prinsip-prinsip pengukuran besaran fisis .
    • Indikator C5 Mengevaluasi /Evaluate
    1. Membandingkan prinsip-prinsip pengukuran besaran fisis .
    2. Menyimpulkanprinsip-prinsip pengukuran besaran fisis .
    3. Menilai prinsip-prinsip pengukuran besaran fisis .
    4. Mempertahankan prinsip-prinsip pengukuran besaran fisis .
    • Indikator C6 Mencipta /Create
    1. Menyusun prinsip-prinsip pengukuran besaran fisis .
    2. Membangun prinsip-prinsip pengukuran besaran fisis .
    3. Merumuskan prinsip-prinsip pengukuran besaran fisis .

    Dalam penyusunan Indikator sebagai penanda tercapainya Kompetensi dasar (KD) harus disusun sedemikian terurut berdasarkan tingkat kesulitan berpikir atau kompleksitasnya rendah ke kompleksitas tinggi yang ditandai oleh LOT, MOT and HOT. Hal ini sesuai dengan prinsip belajar. Sebagai konsekwensi penyusunan Indikator dalam penyusunan rencana pelaksanaan pembelajaran haruslah diikuti oleh instrument soal untuk penilaian KI3 dan KI4.

    Menurut Konsep Kurikulum 2013 Kemampuan Peserta didik harus mencapai High order thinking(HOT), sementara “menerapkan/ application (C3) termasuk pada Midle Order Thinking (MOT), dan sebagai syarat untuk mencapai “menerapkan/ application (C3)” harus melalui kemampuan “ Mengenal /recalling (C1)dan “memahami/ Understand ( C2) yang disebut sebagai Low Order Thingking (LOT) atau sebagai Bridge (jumbatan) untuk mencapai kemampuan berpikir “Menerapkan”.

    Sehingga skemanya dapat seperti :

    LOT/Bridge →-→-→Menerapkan/Application (MOT→-→-→HOT/Penalaran

    Untuk dapat menemukan kata operasional yang digunakan untuk menyusun Indikator pencapaian kompetensi, berikut ini tableProses Kognitif , dimensi Pengetahuan dan Indikator yang dapat digunakan,

    Tabel 1. Proses Kognitif, Dimensi Pengetahuan & indikator

    Level Proses Kognitif Kompetensi yang diharapkan( setara Kompetensi Dasar) Dimensi

    Pengetahuan

    Indikator (KKO)
    C1 Mengingat/recalling/Low Order Thingking (LOT) ·         Mengingat ………

    Misalnya : Istilah

    Fakta

    Aturan

    Urutan

    Metode

    1.       Fakta

    2.       Konsep:

    a.        Aturan

    b.       Urutan

    c.        Metode

    1.       Mengidentifikasi

    2.       Menyebutkan

    3.       Memberi nama pada

    4.       Menyusun daftar

    5.       Menggaris bawahi

    6.       Menjodohkan

    7.       Memilih

    8.       Memberikan definisi

    C2 Memahami/ Understand/ Low Order Thingking (LOT   & Midle Order Thinking (MOT) ·         Menterjemahkan

    ·         Menafsirkan

    ·         Memperkirakan

    ·         Menentukan……..

    Misalnya : Metode

    Prosedur

     

    ·         Memahami……..

    Misalnya : Konsep

    Kaidah

    Prinsip

    Kaitan antara

    Fakta

    Isi pokok

     

    ·         Mengartikan

    /Menginteprestasikan……

    Misalnya : Tabel

    Grafik

    Bagan

    Konsep:

    a.        Metode

    b.       Prosedure Kaidah

    c.        Prinsip

    d.       Kaitan antara

     

    1.       Menjelaskan

    2.       Menguraikan

    3.       Merumuskan

    4.       Merangkum

    5.       Mengubah

    6.       Memberikan contoh tentang

    7.       Menyadur

    8.       Meramalkan

    9.       Memperkirakan

    10.   Menerangkan

    C3 Penerapan/ application/ Midle Order Thinking (MOT) ·         Memecahkan masalah

    ·         Membuat bagan & grafik

    ·         Menggunakan………….

    Misalnya : Metode/prosedur

    Konsep

    Kaidah

    Prinsip

    Konsep:

    Metode/prosedur

    Konsep

    Kaidah

    Prinsip

    1.       Memperhitungkan

    2.       Membuktikan

    3.       Menghasilkan

    4.       Menunjukan

    5.       Melengkapi

    6.       Menyediakan

    7.       Menyesuaikan

    8.       Menemukan

    C4 Analisa/Analysis/High Order thingking (HOT) ·         Mengenali kesalahan

    ·         Membedakan………..

    Misalnya: Fakta dari

    interprestasi

    Data dari

    Kesimpulan

     

    ·         Menganalisa…………

    Misalnya : Struktur dasar

    Bagian-bagian

    Hubungan antara

    Fakta :

    a.        Dari interprestasi

    b.       Data dan

    c.        dari

    Kesimpulan

    Konsep:

    a.        Struktur dasar

    b.       Bagian-bagian

    c.        Hubungan antara

    1.       Memisahkan

    2.       Menerima

    3.       Menyisihkan

    4.       Menghubungkan

    5.       Memilih

    6.       Membandingkan

    7.       Mempertentangkan

    8.       Membagi

    9.       Membuat diagram/skema

    10.   Menunjukan hubungan antara

    C5 Evaluasi/Evaluate/ High Order thingking (HOT) ·         Menilai berdasarkan norma

    internal….

    Misalnya : Hasil karya seni

    Mutu karangan

    Mutu ceramah

    Program

    Penataran

     

    ·         Menilai berdasarkan norma

    eksternal.

    Misalnya : Hasil karya seni

    Mutu karangan

    Mutu pekerjaan

    Mutu ceramah

    Program

    Penataran

     

    ·         Mempertimbangkan……………

    Misalnya : Baik-buruknya

    Pro-kontanya

    Untung ruginya

    Fakta, Konsep,prosedur

    a.        Hasil karya seni

    b.       Mutu karangan

    c.        Mutu pekerjaan

    d.       Mutu ceramah

    e.       Program

    f.         Penataran

     

    1.       Memperhitungkan

    2.       Membuktikan

    3.       Menghasilkan

    4.       Menunjukan

    5.       Melengkapi

    6.       Menyediakan

    7.       Menyesuaikan

    8.       Menemukan

    C6 Mencipta/Creat/ High Order thingking (HOT) ·         Menghasilkan……………

    Misalnya : Klasifikasi

    Karangan

    Kerangka teoritis

     

    ·         Menyusun…………..

    Misalnya : Rencana

    Skema

    Program kerja

    Konsep:

    a.        Klasifikasi

    b.       Karangan

    c.        Kerangka teoritis

    a.        Rencana Skema Program kerja

     

    1.       Mengkategorikan

    2.       Mengkombinasikan

    3.       Mengarang

    4.       Menciptakan

    5.       Mendesain

    6.       Mengatur

    7.       Menyusun kembali

    8.       Merangkaikan

    9.       Menghubungkan

    10.    Menyimpulkan

    11.    Merancangkan

    12.   Membuat pola

    Sumber: Ana Ratna

     

    Mempelajari pernyataan Kompetensi dasar (KD) pada seluruh mata pelajaran jenjang SMA dapat disimpulkan terdapat dua cara penyusunan KD, pertama: KD3 Pernyataan diawali dengan kata utama pada taksonomi Proses Kognisi (Bloom-Anderson), seperti, mengingat,memahami, menerapkan, menganalisis, mengevaluasi dan mencipta. Misalnya C3 menerapkan, C3 menerapkan diturunkan menjadi kata operasional mulai dari kata operasional C1 mengingat, kata operasional C2 memahami hingga kata operasional C6 mencipta sebagaimana terdapat pada table di atas, cara pertama ini secara konsisten digunakan pada mata pelajaran Fisika dan sejarah. Kedua: KD3 Pernyataan diawali dengan bukan kata utama pada taksonomi Proses Kognisi (Bloom-Anderson) , akan tetapi diawali dengan kata operasional KKO pada proses kognisi tertentu, misalnya: membedakan …, menentukan …, KD yang demikian terdapat pada mata pelajaran selain Fisika dan sejarah. Cara kedua ini harus secara hati-hati untuk memahaminya dan menerapkannya pada penyusunan RPP atau Penyusunan Kisi-kisi. Hal ini akanmengakibatkan kekakuan dalam mengembangkan Indikator Pencapaian Kompetensi. Jika KD nya di awali dengan menentukan (seolah indicator) maka dapat mengakibatkan variasi Indikator capaian kompetensi sangat miskin demikian pula untuk variasi soal pada instrument soal.

    Untuk dapat mengembangkan Variasi Indikator atau kisi-kisi soal pada KD atau Indikator tersebut Sebagai solusinya adalah pahami “Menentukan berada pada Proses Kognisi mana, misalnya Pada C3 Menerapkan, kemudian jabarkan pada mulai dari LOT,MOT, HOT berdasarkan Kata operasionalnya.

    1. Pada Penggalan 4, “ … serta menerapkan pengetahuan prosedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah.. “ Dengan pengetahuan procedural mengarahkan pembelajaran melalui proses keterampilan (dalam hal ini Kompetensi Inti Keterampilan (KI4)) untuk mampu memecahkan masalah menuju terkonstruksinya pengetahuan baru yang selanjutnya pengetahuan baru tersebut disikapi.Jika pengetahuan baru tersebut berasimilasi dengan pengetahuan lama secara kognisi maka dapat disikapi dengan cara menerima pengetahuan baru tersebut .

    Sehingga dalam proses pembelajaran mengkonstruksi Pengetahuan (KI3) dapat melalui proses keterampilan (KI4), yakni melalui fasilitasi guru pembelajar harus menganalisis proses keterampilan yang dikembangkan untuk terkonstruksinya Pengetahuan. Proses keterampilan yang dimaksudkan adalah procedure atau langkah-langkah pembelajaran seperti, terampil mengamati, terampil menyusun pertanyaan dan berhipotesa, terampil mengumpulkan informasi untuk menjawab pertanyaan, terampil untuk mencoba,mengolah data, terampil membuat kesimpulan, serta terampil untuk mengkomunikasikan ilmu pengetahuan yang diperoleh diakhir pembelajaran. Jadi kesimpulan adalah adalah ilmu pengetahuan baru dari suatu proses keterampilan atau proses saintifik.

    Merujuk pada teori penilaian pembelajaran, bahwa terdapat dua jenis peneilaian, yakni penilaian proses dan penilaian hasil belajar. Pada penilaian proses belajar terdiri atas penilaian keterampilan dan penilaian sikap dan untuk penilaian hasil belajar adalah penilaian yang dilakukan setelah proses pembelajaran. Hal ini member isyarat bagi kita pebelajar, bahwa pada proses belajar tersebut proses keterampilan yang berupa aktivitas peserta didik seperti mengamati, menanya dst hingga pengetahuan terkonstruksi. Adapun produk keterampilan selama pembelajaran dapat dinilai sebagai nilai Kompetensi Inti Keterampilan (KI4) dan dalam aktivitas proses keterampilan dapat dinilai kompetensi Inti sikap (KI1,2) dan pada terbentuknya pengetahuan baru adalah penilaiain kompetensi inti pengetahuan (KI3).

    Jadi proses pembelajaran yang diwarnai dengan proses keterampilan dapat dilakukan penilaian keterampilan (KI4). Hasil keterampilan akan berakhir dengan Ilmu pengetahuan yang berupa kesimpulan yang diperoleh melalui proses keterampilan, hal ini dapat dinilai sebagai Penilaian Pengetahuan (KI3). Dan jika selama proses pembelajaran dilakukan dengan diskusi pada learning group maka dapat pula fasilitator melakukan penilaian sikap seperti, disiplin, sikap tangguh, sikap hormat terhadap pendapat teman, yang hal ini tidak lain adalah Penilaian Sikap Sosial (KI2), dapat dipikirkan pula efek pembelajaran dengan penilaian sikap spiritual (KI1). Penilaian yang demikian disebut penilaian otentik.

     

     

     

    Kesimpulan

    1. Pada kompetensi Inti Pengetahuan ( KI3) sebenarnya sudah mengarahkan cakupan seluruh kompetensi yang diharapkan dimiliki oleh peserta didik yakni, a) Kompetensi Inti Spiritual ( KI1) , b) Kompetensi Inti Sikap (KI2) dan Kompetensi Inti Keterampilan (KI4).
    2. Pada kompetensi Inti Pengetahuan ( KI3) yang kemudian diturunkan menjadi Kompetensi dasar, diturunkan lagi ke Indikator Pencapaian Kompetensi sudah terdapat dimensi proses kognisi C1,…C6) dan dimensi Pengetahuan yang yang terdiri atas Jenis Pengetahuan a) factual, b) Konsep, c) Prosedural dan d) Metakognitif.
    3. Untuk menurunkan Kompetensi Dasar menjadi indicator pencapaian kompetensi dapat menggunakan kata kerja operasional (KKO).
    4. Dalam penyusunan instrument penilaian pengetahuan mengharuskan untuk patuh pada taksonomi Bloom-Anderson.
    5. Pada kompetensi Inti pengetahuan sudah mengarahkan proses pembelajaran menggunakan prosedur keterampilan menuju terkonstruksinya pengetahuan.
    6. Pada kompetensi Inti pengetahuan sudah mengarahkan pembelajaran dalam satu satuan waktu dengan proses penilaian, yakni penilaian proses, keterampilan dan sikap dan setelah pembelajaran berakhir dapat dinilai pengetahaunan yang meretensi.
    7. Perlu memperhatikan KD dari KI dalam menyusun instrument soal untuk penilaian pengetahuan, gunakan gambar pada poin 10 sebagai referency.

    Saran

    1. Untuk penjabaran KI-KD ke Indikator untuk selain Mata Pelajaran Fisika dapat menggunakan Analogi KI_KD_indikator Fisika.
    2. Jika ditemukan hal yang berbeda dengan KI-KD-Indikator dengan Mata pelajaran fisika dapat mendiskusikannya dengan teman guru sesama Mata pelajaran atau pada teman guru lintas mata pelajaran.

     

    Referency:

    • Ana Ratna, Taksonomi Bloom-Revisi (Ppt), UPI
    • Anderson, L.W., dan Krathwohl, D.R. 2001. A Taxonomy for Learning, Teaching, and Assesing: A Revision of Bloom’s Taxonomy of Educatioanl Objectives. New York: Addison Wesley Longman, Inc.
    • Imam Gunawan , Makalah, Taksonomi Bloom – Revisi Ranah Kognitif: Kerangka Landasan Untuk Pembelajaran, Pengajaran, Dan Penilaian.

     

  2. (md)

Save

Save